Showing posts with label Budaya/Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Budaya/Tradisi. Show all posts

Wednesday, April 13, 2011

5 Hal Aneh yang Bisa Anda Temukan di Singapura

Oleh Denise Cheong

Hanya di Singapura, Anda bisa kehilangan S$100 sebelum berada di dalam kasino, mengantri dua jam untuk bubble tea, dan bergabung dengan agen kencan yang dikelola pemerintah.

Kita semua tahu tentang pendingin ruangan Singapura, mal-mal, pusat jajanan (hawker), denda untuk membuang sampah sembarangan dan membawa durian. Namun tahukah Anda bahwa Singapura juga memiliki agen kencan yang disponsori oleh pemerintah dan Hotel Merlion? Berikut ini adalah lima fakta unik lainnya tentang negara-kota ini.

1. Antrian panjang bubble tea

Kami tidak pernah melihat antrian seperti ini sejak Hello Kitty muncul di McDonald's. Toko bubble tea trendi seperti Koi, Gong Cha dan I Love Taimei benar-benar menangguk untung besar dari para penyuka bubble tea yang rela antre sampai dua jam untuk mendapatkan minuman favorit mereka.

2. Kafe pelayan

Gadis-gadis ini mengenakan bulu mata palsu, bermata besar seperti Bambi, dan kostum pelayan Perancis versi Jepang di Akibanana Café and Bar (Tanjong Pagar Road 108, +65 6222 2087) demi memenuhi setiap keinginan Anda.

Para Meido-san ini akan menyuapi Anda, merapikan kuku, bahkan memberi pijatan.

3. Hotel Merlion

Patung berbentuk setengah ikan, setengah singa ini menjalani transformasi dari tanggal 7 Februari sampai 9 Maret menjadi sebuah kamar hotel sementara untuk menerima tamu yang akan bermalam.

Seakan Merlion tidak cukup dipermalukan, kini sebuah hotel pun didirikan atas namanya.

4. Bea masuk S$100 untuk kasino

Singapura adalah satu-satunya negara di dunia yang menerapkan bea masuk ke kasino bagi penduduk lokal — sesuatu yang sangat absurd.

Banyak penduduk setempat yang sudah ditahan, didenda, dan bahkan dipenjara karena menggunakan izin kerja orang asing untuk mencoba masuk ke kasino tanpa membayar bea masuk.

5. SDU = Single, Desperate, Ugly?

Oh salah, maksudnya Social Development Unit, sebuah agen pencari jodoh yang disponsori pemerintah. Bersiap-siaplah menerima undangan keanggotaan eksklusif (dengan biaya tahunan S$10) dari SDU jika Anda berusia di atas 30 tahun dan masih melajang.

Tuesday, March 8, 2011

Festival Tradisi Ciuman Muda-Mudi Di Bali (Foto & Video)

Festival Tradisi Ciuman Muda-Mudi Di Bali - Sehari setelah hari raya Nyepi, sebuah banjar di Desa Sesetan, Denpasar, Bali, selalu menggelar tradisi unik yang hanya satu-satunya di Pulau Dewata. Banjar Kaja yang terletak di sebelah selatan Kota Denpasar ini memiliki tradisi omed-omedan atau festival ciuman antarpemuda dan pemudi banjar setempat.

Tahun ini sedikitnya 50 muda-mudi yang telah beranjak dewasa turut serta dalam festival warisan leluhur ini. Festival diawali dengan sembahyang bersama di pura banjar dan seluruh peserta wajib mengikuti prosesi ini supaya diberi kelancaran dan keselamatan saat ciuman nanti. Seusai sembahyang para muda-mudi ini dibagi dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok pria dan satunya lagi adalah kelompok wanita.

Para ”tetua” atau orang yang dituakan di desa tersebut menjadi ”wasit” festival ciuman ini. Jika para ”tetua” memberi aba-aba mulai, kedua kelompok yang saling berhadap-hadapan ini menunjuk salah satu wakilnya untuk diarak ke depan dan beradu ciuman dengan wakil dari kelompok lain. Biasanya jika sudah terjadi adu mulut, peserta pria lebih bernafsu melumat bibir ”lawan”-nya yang tampak malu-malu tapi mau.

Untuk menghindari ciuman semakin panas, para tetua dibantu panitia mengguyurkan air kepada seluruh peserta omed-omedan. Namun, tak hanya peserta, para penonton, fotografer dan kamerawan yang mengambil gambar terlalu dekat juga harus rela diguyur dengan air satu ember.

Baku cium antarmuda-mudi ini dilakukan berulang-ulang hingga ”wasit” menghentikannya. Festival yang ditonton ribuan wisatawan dan warga ini akhirnya usai setelah berlangsung sekitar satu jam. Seluruh peserta kembali ke pura banjar untuk diperciki air tirta.

Ayu Prambandari, salah seorang peserta omed-omedan, sempat merasa canggung saat berciuman dengan peserta pria karena tidak saling kenal. ”Deg-degan sih, kan kaget dapetnya sama siapa. Kalau di sini kami tidak tahu ciuman sama siapa jadi agak canggung, kalau sama pacar kan beda,” kata gadis berusia 20 tahun ini.

Ayu yang sudah 7 kali mengikuti omed-omedan ini mengaku antusias menjadi peserta karena ingin melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun temurun ini. ”Orangtua kami dulu kan juga ikut, ini sudah adat takutnya entar kalau enggak ikut ada apa-apa,” ujarnya.


Tradisi omed-omedan ini dimulai pada abad ke-17. Sebelumnya tradisi ini dilakukan saat hari raya Nyepi. Namun, pada tahun 1978 diputuskan untuk menggantinya pada saat Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi. ”Tradisi ini hanya luapan kegembiraan teruna teruni pada saat melakukan omed-omedan di hari Ngembak Geni,” kata I Gusti Ngurah Oka Putra, tokoh masyarakat Banjar Kaja.

Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, omed-omedan digelar untuk semakin meningkatkan rasa kesetiakawanan dan solidaritas antarwarga khususnya para pemuda dan pemudi.